pendidikan karakter

on Kamis, 29 Mei 2014

 PENDIDIKAN KARAKTER DI PESANTREN

             globalisasi ini banyak sekali kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat rata-rata pelaku kesenjangan sosial itu sendiri adalah pemuda. Data membuktikan lebih dari setengah dari jumlah pemuda di Indonesia pernah melakukan suatu tindakan kriminal, mulai dari perkelahian, pencopetan, pencurian, pemerkosaan, sampai pembunuhan. Apakah penyebab semua itu? Padahal pemuda di zaman sekarang adalah penerus di zaman yang akan datang. Akan jadi apa negara ini jika mereka seperti itu?
Banyak alasan mengapa mereka bertindak demikian. Di antaranya, karena kuranganya pendidikan karakter yang di ajarkan kepadanya. Oleh sebab itu, begitu  penting pendidikan karakter sejak dini untuk para pemuda. Pendidikan karakter merupakan pendidikan kepribadian(moral). Karena melihat semakin merosotnya moral bangsa ini maka pendidikan karakter dipandang penting.  Pondok Pesantren merupakan wadah untuk memperoleh pendidikan karakter yang paling bagus. Dengan alasan, di Pondok Pesantren mereka akan selalu terawasi 24 jam. Mulai dari bagun tidur sampai tidur lagi, dan semua tingkah lakunya juga tak akan luput dari pengawasan. di Pondok pula mereka akan belajar hidup mandiri yang biasanya mereka selalu di bantu orang tua sekarang mereka harus melakukan sendiri mulai dari mencuci baju, makan, sampai menata baju. Jika tidak di biasakan seperti itu, maka mereka akan menjadi anak manja. yang akan berdampak buruk bagi kehidupan dewasanya nanti. sekarang bisa kita perbandingakan antara pemuda yang pernah menempuh pendidikan di pondok pesantren dengan pemuda yang tidak pernah tersentuh agama sama sekali. Pasti persentasinya kenakalanya 85% di banding 15% sangat jauh bukan. Mulai sekarang kita harus berfikir tentang pendidikan anak-anak kita dan termasuk diri kita sendir
            Di zaman sekarang banyak sekali pemuda yang cerdas tetapi kecerdasannya itu tidak di imbangi dengan akhlakul karimah(kepribadian yang baik). Karena sawaktu mereka di sekolah tidak pernah mendapat pelajarn tentang akhlakul karimah(kepribadian yang baik). mereka hanya di gembleng dengan ilmu-ilmu umum tanpa ada ilmu agama yang mencukupi. kadang ada pelajaran agama tetapi satu minggu hanya satu kali. akhirnya mereka lebih mamahami ilmu-ilmu umum dan meninggalkan ilmu Agama. Memang di zaman sekarang ini kita harus bisa menguasai displin ilmu umum agar kita tidak tertinggal. Akan tetapi kalau kita tidak mengimbaginya dengan ilmu Agama itu seperti kita makan nasi tetapi tidak minum air maka kita akan tersendat  dan mati. Begitu pula pemuda yang hanya  belajar ilmu umum tanpa ilmu agama, lama-lama dia akan mati. dalam artian dia tidak mempunyai benteng untuk menolak suatu kebiasaan yang buruk. Jika sudah begitu jangan salahkan anak kita bila nakal, karena itu kesalahan kita, yang  tidak bisa  memilihkan tempat belajar yang baik. Sekarang kita renungkan, jika kita mempunyai dua anak yang pertama dia cerdas. Tetapi, ahklaknya buruk. dan yang kedua dia tidak cerdas tetapi dia mempunyai sopan santun dengan anda dan orang lain. Maka anda sebagai manusia normal manakah yang anda senangi, pasti anak yang kedua. Maka begitu pentingnya belajar agama itu. di zaman sekarang sudah banyak Pondok Pesantren yang memiliki pendidikan formal. Selain mereka akan diberi ilmu-ilmu umum, mereka juga akan dibentegi dengan ilmu-ilmu agama yang memedahi. di pondok pesantren yang seperti inilah anak akan mendapatkan kedua-duanya mereka bisa belajar Agama dan disiplin ilmu umum.


biografi gus baha'

Al Mufassir Al Faqih Asy Syaikh AHMAD BAHAUDDIN NURSALIM An Narukani

Pernah pada sebuah kesempatan, Prof.Quraisy Syihab berkata,"sulit ditemukan orang yg sangat memahami dan hafal detail-detail Al Qur'an hingga detail-detail fiqh yang tersirat dalam ayat-ayat al Qur'an seperti pak Baha'...".

Biografi Gus Baha'Gus Baha', demikian beliau akrab dipanggil oleh santri-santrinya, adalah putra seorang Ulama' Ahli Al Qur'an, KH.Nursalim al Hafizh dari Desa Narukan Kragan Rembang, sebuah desa di pesisir utara pulau Jawa. KH.Nursalim adalah murid dari KH.Arwani al Hafizh, Kudus, dan KH.Abdullah Salam al Hafizh,Pati. Dari silsilah keluarga ayah beliau inilah, terhitung dari buyut beliau hingga generasi ke empat kini, merupakan Ulama'-ulama' ahli Qur'an yang handal. Silsilah keluarga dari garis Ibu beliau, merupakan silsilah keluarga besar ulama' Lasem, Bani mbah Abdurrahman Basyaiban atau mbah Sambu, yang pesareannya di area Masjid Jami' Lasem, sekitar setengah jam perjalanan dari pusat Kota Rembang.

Pendidikan Beliau


Gus Baha' kecil memulai menempuh gemblengan keilmuan dan hafalan al Qur'an di bawah asuhan langsung ayahnya.Hingga pada usia yang masih sangat belia, beliau telah mengkhatamkan hafalan al Qur'an beserta qiro'ahnya dengan lisensi yang ketat dari ayah beliau. Memang, karakteristik bacaan dari murid-murid mbah Arwani mengetrapkan ketetatan dalam tajwid dan makhorijul huruf (GB,Feb '13). Menginjak usia remaja, Kyai Nursalim menitipkan Gus Baha' untuk mondok dan berkhidmat kepada Syaikhina KH.Maimoen Zubair, di PP.Al Anwar Karangmangu Sarang Rembang, sekitar 10 Km arah timur Narukan.Di Al Anwar inilah beliau sangat terlihat menonjol dalam fan-fan ilmu Syari'at seperti Fiqih,Hadits,dan Tafsir.Hal ini terbukti dari beberapa amanat prestisius keilmiahan yang diemban oleh beliau selama mondok di Al Anwar, seperti Rois Fathul Mu'in, dan Ketua Ma'arif di jajaran kepengurusan PP.Al Anwar. Saat mondok di Al Anwar ini pula, beliau mengkhatamkan hafalan Shohih Muslim, lengkap dengan matan,rowi dan sanadnya.Selain Shohih Muslim, beliau juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Mu'in dan kitab-kitab gramatika Arab seperti Imrithi dan Alfiyah Ibnu Malik. Menurut sebuah riwayat, dari sekian banyak hafalan beliau tersebut menjadikan beliau santri pertama al Anwar yang memegang rekor hafalan terbanyak di Era beliau. Bahkan, tiap-tiap musyawaroh yang akan beliau ikuti, akan serta merta ditolak oleh kawan-kawannya, sebab beliau dianggap tidak berada pada level santri pada umumnya, karena kedalaman ilmu,keluasan wawasan, dan banyaknya hafalan. Selain menonjol dengan keilmuannya, beliau juga sosok santri yang dekat dengan Kyainya. Dalam berbagai kesempatan, beliau sering mendampingi Guru beliau, Syaikhina Maimoen Zubair untuk berbagai keperluan, mulai dari sekedar berbincang santai, hingga urusan mencari ta'bir dan menerima tamu-tamu ulama'-ulama' besar yang berkunjung ke Al Anwar.Hingga beliau dijuluki sebagai santri kesayangan Syaikhina Maimoen Zubair. Pernah pada suatu ketika, beliau dipanggil untuk mencarikan ta'bir tentang suatu persoalan oleh Syaikhina.Karena sangking cepatnya ta'bir itu ditemukan tanpa membuka dahulu referensi kitab yang dimaksud, hingga Syaikhinapun terharu dan ngendikan,"iyo Ha', koe pancen cerdas tenan...".Selain itu, Gus Baha' juga kerap dijadikan contoh teladan oleh Syaikhina saat memberikan mawa'izh tentang profil santri ideal di berbagai kesempatan,"santri tenan iku yo koyo Baha' iku.." begitu kurang lebih ngendikan Syaikhina yg riwayatnya sampai kepada penulis.

Dalam riwayat pendidikan beliau, semenjak kecil hingga beliau mengasuh Pesantren warisan ayahnya sekarang, hanya mengenyam pendidikan dari 2 pesantren, yakni Pesantren ayahnya sendiri di desa Narukan, dan PP.Al Anwar Karangmangu. Pernah suatu ketika ayahnya menawarkan kepada beliau untuk mondok di Rushoifah atau Yaman, namun beliau lebih memilih untuk tetap di Indonesia, berkhidmat kepada almamaternya,Madrasah Ghozaliyah Syafi'iyyah,PP.Al Anwar,dan Pesantrennya sendiri,LP3IA.
Kepribadian Beliau

Setelah menyelesaikan pengembaraan ilmiyahnya di Sarang, beliau menikah dengan seorang Neng pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan. Ada cerita menarik saat beliau menikah. Diriwayatkan, setelah acara lamaran selesai, beliau menemui calon mertuanya dan mengutarakan sesuatu yang menjadi kenangan beliau hingga kini. Beliau utarakan, bahwa kehidupan beliau bukanlah model kehidupan yg galmour, dan bahkan sangat sederhana. Beliau berusaha meyakinkan calon mertuanya untuk berfikir ulang atas rencana pernikahan tersebuat, tentu maksud beliau "agar mertuanya tidak kecewa di kemudian hari".Mertuanya hanya tersenyum dan menyatakn "klop", alias sami mawon kalih kulo. Kesederhanaan beliau ini dibuktikan saat beliau berangkat menuju Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah yg telah ditentukan waktunya. Beliau berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular alias bus biasa kelas ekonomi, berangkat dari Pandangan menuju Surabaya, selanjutnya disambung bus kedua menuju Pasuruan. Kesederhanaan beliau bukanlah sebuah kebetulan, namun hal tersebut merupakan hasil didikan ayahnya semenjak kecil. Apakah keluarga beliau miskin, hingga harus hidup dengan sederhana? Sama sekali tidak! Dari silsilah keluarga beliau dari pihak ibu, atau lebih tepatnya lingkungan keluarga di mana beliau diasuh semenjak kecil, tiada satu keluargapun yang miskin. Bahkan kakek beliau dari jalur ibu,merupakan seorang juragan tanah di desanya. Saat dikonfirmasi oleh penulis, mengapa beliau lebih memilih hidup sederhana, beliau nyatakan bahwa hal tersebut merupakan karakter keluarga Qur'an yang dipegang erat sejak zaman leluhurnya.Bahkan salah satu wasiat dari ayah beliau, agar beliau menghindari keinginan untuk menjadi "manusia mulya" dari pandangan keumuman makhluk, atau lingkungannya. Hal inilah yang hingga kini mewarnai kepribadian dan warna kehidupan beliau sehari-hari.Semenjak setelah menikah, beliau mencoba hidup mandiri dengan keluarga baru beliau. Beliau tinggal dan menetap di Yogyakarta semenjak 2003. Selama di Yogyakarta, beliau menyewa rumah untuk ditempati keluarga kecil beliau, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.Semenjak beliau hijrah ke Yogyakarta, banyak dari santri-santri beliau di Karangmangu yang merasa kehilangan induknya. Hingga pada akhirnya mereka menyusul beliau ke Yogyakarta, dan urunan untuk menyewa rumah di dekat beliau, tiada tujuan lain, selain untuk tetap dapat ngaji kepada beliau. Terhitung ada sekitar 5 atau 7 santri mutakhorijin al Anwar maupun MGS yang ikut beliau ke Yogyakarta saat itu. Saat di Yogyakarta inilah kemudian banyak masyarakat sekitar beliau yang akhirnya minta ikut ngaji kepada beliau. Hingga pada tahun 2005, ayah beliau, KH.Nursalim jatuh sakit, dan beliau pulang sementara waktu untuk turut merawat beliau bersama ke empat saudaranya yang lain. Namun siapa sangka, semenjak saat itu dan setelah beberpa bulan kemudian Kyai Nursalim kapundut, Gus Baha' tidak dapat lagi meneruskan perjuangannya di Yogyakarta sebab beliau diamanahi oelh ayah beliau untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan. Banyak yang merasa kehilangan atas keputusan beliau ini, hingga pada akhirnya para santri beliaupun sowan dan meminta beliau kerso kembali ke Jogja. Hingga pada gilirannya beliau bersedia,namun hanya 1 bulan sekali dan hal itu berjalan hingga kini. Selain mengasuh pengajian, beliau juga mengabdikan dirinya di Lembaga Tafsir al Qur'an Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Reputasi Keilmuan Beliau

Selain Yogyakarta, beliau juga diminta untuk mengasuh pengajian Tafsir al Qur'an di Bojonegoro Jawa Timur. Jika Jogja di minggu terakhir, maka Bojonegoro di minggu kedua tiap bulannya. Hal ini beliau jalani secara rutin dari 2006 hingga kini.
Di UII, beliau merupakan ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Bersama timnya yang terdiri dari para Profesor, Doktor, dan ahli-ahli al Qur'an dari seantero Indonesia, seperti Prof.Dr.Quraisy Syihab, Prof.Zaini Dahlan, Prof.Shohib, dan para anggota Dewan Tafsir Nasional yg lain. Hingga suatu kali beliau ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII, namun beliau tidak berkenan. Dalam jagad Tafsir al Qur'an di Indonesia, beliau termasuk pendatang baru, dan sama sekali satu-satunya anggota dari jajaran dewan tafsir nasional yg berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar.Meskipun demikian, ke'aliman dan penguasaan keilmuan beliau sangat diakui oleh para ahli Tafsir Nasional. Hingga suatu kesempatan pernah diungkapkan oleh Prof.Quraisy bahwa kedudukan beliau di dewan tafsir nasional selain sebagai "Mufassir" namun juga sebagai "Mufassir Faqih", karena penguasaan beliau pada ayat-ayat ahkam yang terkandung dalam al Qur'an. Setiap kali lajnah "menggarap" tafsir dan mushaf al Qur'an, posisi beliau selalu di 2 keahlian, yakni sebagai Mufassir seperti angota lajnah yang lain, juga sebagai Faqihul Qur'an, yang mempunyai tugas khusus menguari kandungan Fiqh dalam ayat-ayat ahkam al Qur'an.

Ibnu Atsir, tetap berkarya meski tangan dan kaki lumpuh

on Sabtu, 24 Mei 2014
Ibnu Atsir, tetap berkarya meski tangan dan kaki lumpuh

Dalam dunia ilmu hadits, nama Ibnu Atsir memang tidak setenang Imam Al-Bukhari, Imam Muslim ataupun Imam Ahmad. Namun demikian, para Ulama hadits sangat mengapresiasi karya ilmiah beliau dalam salah satu aspek ilmu hadits yang beliau dalami dan merasakan manfaatnya yang besar.

Terlahir dengan nama Mubarak, putra Muhammad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Wahid Asy-Syaibani Al-Jazari, di kota Maushil (Mosul, Irak) pada tahun 544 H. Selanjutnya lebih populer dengan panggilan Ibnul Atsir, putra al-Atsir yang merupakan laqab (julukan) sang ayah.

Sejak dini, beliau memasuki dunia ilmu dengan penuh semangat. Ini sesuai dengan pengakuan beliau dalam mukadimah kitab Ilmi’ul Ushul Fii Ahaditsir Rasul, “Sejak memasuki masa remaja dan dalam usia belia, aku sangat tertarik untuk thalabul ilmi (belajar ilmu agama), duduk bersama ulama dan berupaya sebisa mungkin untuk menyerupai mereka (para Ulama). Itu adalah kenikmatan dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadaku lantaran menjadikan hal-hal tersebut sanggup mengambil hatiku. Maka, aku mengerahkan seluruh daya untuk memperoleh berbagai macam ilmu yang dapat aku raih dengan taufik Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga terbentuk pada diriku kemampuan menguasai sisi-sisi yang tersembunyi dan mengetahui segi-segi yang sulit. Tidak kusisakan upayaku sedikit pun (untuk urusan itu). Allah-lah yang memberiku taufik untuk dapat mencari ilmu dengan baik dan meraih tujuan mulia.”

Seiring dengan perjalanan waktu, kemampuan ilmiah beliau pun mencapai kematangan. Tidak hanya menguasai satu disiplin ilmi. Ilmu bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan Fikih adalah deretan pengetahuan beliau yang menonjol. Karya-karya ilmiah di bidang-bidang yang telah disebutkan menjadi bukti nyata akan kepakaran beliau di dalamnya. Tak ketinggalan, Ulama yang juga akrab dengan panggilan Abu Sa’adat Majduddin ini juga dikenal sebagai seorang penyair ulung. Akan tetapi, dari seluruh aspek keahliannya itu, kedalamannya dalam ilmu hadits, terutama yang berkaitan dengan ilmul gharib lah yang paling menonjol. Namanya pun sering dikaitkan dengannya lantaran telah melahirkan karya yang disebut-sebut tiada tandingannya. Orang lebih mengenal beliau dari sisi itu.

Dalam sejarah kehidupan yang harus dilalui, diceritakan bahwa beliau mengidap suatu penyakit yang akhirnya melumpuhkan fungsi anggota geraknya, dua tangan dan kakinya. Dampaknya, beliau pun tidak bisa lagi menulis sendiri. Untuk aktifitas yang memerlukan gerak banyak, beliau harus ditandu. Karena itu, beliau lebih sering berada di dalam rumahnya.

Kendatipun mengalami hidup dalam keterbatasan secara fisik, hal itu tidak mengahalangi beliau untuk mewariskan ilmi-ilmiu bagi umat. Bahkan ternyata, kitab-kitab karangan beliau, kebanyakan tersusun saat beliau tak berdaya menghadapi penyakit yang dideritanya. Ada sejumlah murid yang membantu beliau menuliskannya.

Urgensi An-Nihayah fi Gharibil Haditsi wal Atsar
Imam Ahmad pernah ditanya tentang satu kata sulit yang terdapat dalam sebuah hadits. Beliau menjawab, “Tanyakanlah itu kepada orang-orang yang menguasainya (ashhabul gharib). Aku tidak suka berbicara tentang perkataan Rasulullah dengan dasar prasangka semata yang bisa mengakibatkan aku melakukan kesalahan.”

Ungkapan Imam Ahmad ini sedikit banyak menandakan pentingnya penguasaan satu disiplin ilmu dalam dunia ilmu hadits yang disebut dengan ilmul gharib, yang nantinya menjadi titik keunggulan Ibnul Atsir dan karyanya.

Secara mudah, pengertian al-ghariib, dikatakan Ibnu Shalah, ialah satu ungkapan untuk menerangkan kata-kata yang (belum) tidak jelas maknanya, susah dipahami yang ada dalam matan (teks-teks) hadits lantaran sudah jarang pakai (orang)”. Jadi yang masuk kategori kata gharib (kata-kata asing) adalah kata yang sudah termarjinalkan pemakaiannya, sulit dipahami, tidak terbiasa didengar telinga.

An-Nihayah fi Gharibil Haditsi wal Atsar itulah nama kitab susunan Ibnul Atsir dalam masalah ini. Sebagaimana namanya, An-Nihayah (penghabisan), kitab ini kandungannya kaya, sangat mencukupi dan memadai untuk menjadi jembatan memahami kata-kata sulit yang terdapat dalam hadits-hadits, lantaran telah menggabungkan kitab-kitab sebelumnya, plus tambahan dari beliau yang banyal. Selain itu, melalui kitab ini, akan mudah dicari kata sulit yang diinginkan dan dengan cara yang mudah, tidak seperti karya-karya ulama sebelumnya dalam bidang yang sama yang masih menyisakan kesulitan dalam mencari kata perkata. Tak pelak, bila dijadikan sebagai umdah, pegangan utama dalam ilmul gharib.

Tentang kitabnya, As-Suyuthi berkata, “Kitabnya adalah kitab terbaik dalam bahasan gharibul hadits, paling lengkap dan paling terkenal, serta paling sering dipakai.”
Di antara pelajaran yang dapat dipetik dari biografi Ibnu Atsir:

    Manfaat besar memulai mendalami agama sejak dini. Pengaruhnya akan lebih kaut di masa dewasa.
    Pentingnya ketekunan dalam belajar untuk menggapai tujuan.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan hamba-Nya untuk memberi kemanfaatan bagi sesama bila jujur dalam niatya meski menderita kekurangan secara fisik. Wallahu a’lam.

Sumber: Majalah As-Sunnah, Edisi 06 Tahun XIV 1431 H./2010 M.

Tafsir Para Ilmuan

on Kamis, 22 Mei 2014


PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Al-Qur'an sebagai sebuah kitab suci, ternyata tidak hanya mengandung ayat-ayat yang berdimensi aqidah, syari'ah dan akhlaq semata, akan tetapi juga memberikan perhatian yang sangat besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan (sains). Jika kita membaca Al-Qur'an secara seksama, akan kita temukan sangat banyak ayat-ayat yang mengajak kepada manusia untuk bersikap ilmiah, berdiri di atas prinsip pembebasan akal dari takhayul dan kebebasan akal untuk berpikir. Al-Qur'an selalu mengajak manusia untuk melihat, membaca, memperhatikan, memikirkan, mengkaji serta memahami dari setiap fenomena yang ada terlebih lagi terhadap fenomena-fenomena alam semesta yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena darinya bisa dikembangkan sains dan teknologi untuk perkembangan umat manusia dan dengan itu pula akan didapatkan pemahaman yang utuh dan lengkap.
Al-Qur’an yang notabenenya menjelaskan segala hal, secara tersurat maupun tersirat telah banyak menyinggung fenomema alam (dhawahir al-‘alam), Dan itu jauh masanya sebelum manusia diera ini mengenal dan mengembangkan ilmu pengetahuan dibidang sains (science). Sebagai contoh ayat yang menceritakan tentang perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan, pertama ia melihat bintang dimalam hari, lalu melihat bulan dan kemudian melihat matahari, Allah SWT. memperlihatkan fenomena alam tersebut kepada Nabi Ibrahim tidak lain hanya agar supaya ia mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. atas segala sesuatu.
Adapun terhadap ayat-ayat kawniyyah dari ayat-ayat al-Qur’an, memang tidak ada yang secara tegas dan khusus ditujukan kepada para ilmuwan untuk mengkaji, namun pada hakikatnya, mereka inilah yang diharapkan untuk terjun melakukan penelitian dan mengkaji serta memahami makna-makna yang tersurat dan yang tersirat dari ayat-ayat kawniyyah. Karena hanya orang-orang yang ahli dan mempunyai saran serta kompetensi dalam bidangnyalah yang bisa dan mampu untuk menggali secara lebih komprehensif dan teliti dalam melakukan tugas tersebut sehingga hasil dari kajian dan penelitian tersebut akan benar-benar memberikan manfaat bagi umat manusia.
Dengan demikian, besar harapan para ilmuwan-ilmuwan muslim tergerak dan termotivasi untuk mengeksplorasi ayat-ayat al-Qur’an yang berdimensi ilmiah dan berusaha menafsirkan serta menggali makna yang terkandung di dalamnya serta menjadikannya sebagai inspirasi untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru yang bermanfaat bagi umat manusia dan dengan semakin berkembangnya sains dan teknologi ini pula mendorong munculnya corak baru dalam bidang penafsiran yang dikenal pada saat ini sebagai penafsiran ilmiah atau Tafsir 'Ilmi (Sciences Exegesis) yang cukup banyak menarik perhatian para intelektual muslim dan permasalahan (Tafsir Ilmi) ini pula yang akan menjadi pokok pembahasan penulis dalam makalah ini.

1.2   Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan Tafsir Ilmi?
2.      Bagaimana pendapat ulama tentang Tafsir Ilmi?

1.3  Tujuan Penulisan
1.      Memberi pengetahuan kepada pembaca tentang definisi Tafsir Ilmi sendiri
2.      Mengetahui pandangan ulama tentang tafsir Ilmi.



PEMBAHASAN

A.    Definisi Tafsir Ilmi

Ilmu tafsir terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Ilmu tafsir muncul dengan corak dan ragam latar belakang pendidikan para mufasir. Dalam perkembangan muncul corak tafsir fiqhi, falsafi, shûfi, adab al-ijtimâ’î, dan lain-lain. Pada masa belakangan ini mencuat suatu model tafsir baru yaitu yang dikenal dengan tafsîr ‘ilmî.
Tafsîr ‘ilmî secara sederhana dapat dipahami sebagai tafsir yang di dalamnya dilibatkan teori-teori ilmu pengetahuan, baik dari sisi hakikat maupun teori- teorinya untuk menjelaskan tujuan- tujuan serta makna-makna lafal-lafal al-Qur’ân. Ilmu pengetahuan yang digunakan seperti ilmu fisika, astronomi, geologi, kimia, biologi yang menyangkut hewan, ilmu medis, anatomi, fisiologi, ilmu matematika dan sejenisnya. Selain itu, ada ulama yang juga memasukkan ilmu humanisme dan sosial, seperti ilmu psikologi, ekonomi, geografi dan lain-lain. Biasanya, yang semangat melaksanakan dan mempunyai kepedulian tinggi terhadap pola tafsir ini adalah pakar-pakar ilmu-ilmu alam (fisika dan biologi), karena mereka ingin mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajarinya. Sedangkan dari kalangan ulama, mereka masih berbeda pendapat tentang kebolehan melakukan penafsiran ilmiah.[1]
Karya yang bisa digolongkan dalam kelompok tafsir ilmi adalah Tafsir al-Kabīr karya Imam Fakh al-Razî dan Tafsir al-Jawahir karya Tantawi Jauhari
B.     Pro-kontra Tafsir Ilmi
Sebagai produk baru, tafsîr ‘ilmî tidak lepas dari dukungan dan kritikan para ulama. Terdapat ulama yang pro (membolehkan) dan kontra (melarang) terhadap keberadaan tafsîr ‘ilmî tersebut. Menurut Yûsuf al-Qarâdhawiy, para ahli agama dan syariat berbeda pendapat tentang validitas visi penafsiran ilmiah ini. Terdapat tiga kelompok berkenaan dengan tafsir ilmi.
1.      kelompok yang mendukung keberadaan tafsir ilmi.
2.      kelompok yang menolak.
3.      kelompok moderat yang mencoba mencari jalan tengah di antara dua kelompok yang bertolakbelakang secara diametral di atas.
Kelompok yang mendukung tafsir ilmi beralasan bahwa tafsir ilmi adalah sebuah keniscayaan sejarah dan bagian dari upaya mendialogkan al-Qur’an dengan aktualitas, dengan konteks, dan sebagai respon terhadap perkembangan zaman yang senantiasa bergerak.Kelahiran tafsir ilmi merupakan dinamika yang wajar dalam batang tubuh umat Islam.Keberadaan tafsir ilmi dapat membuka tabir-tabir makna yang selama ini belum terungkap dan bahkan dalam beberapa kasus dapat merevisi berbagai pandangan atau tafsiran yang sejatinya bertolak belakang dengan visi dan paradigma al-Qur’an sendiri.
Kelompok yang mendukung tafsir ilmi beralasan bahwa tafsir ilmi adalah sebuah keniscayaan sejarah dan bagian dari upaya mendialogkan al-Qur’an dengan aktualitas, dengan konteks, dan sebagai respon terhadap perkembangan zaman yang senantiasa bergerak.Kelahiran tafsir ilmi merupakan dinamika yang wajar dalam batang tubuh umat Islam.Keberadaan tafsir ilmi dapat membuka tabir-tabir makna yang selama ini belum terungkap dan bahkan dalam beberapa kasus dapat merevisi berbagai pandangan atau tafsiran yang sejatinya bertolak belakang dengan visi dan paradigma al-Qur’an sendiri.
Apalagi ibadah-ibadah utama dalam agama Islam berkaitan langsung dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti shalat yang membutuhkan ilmu geografi dan astronomi, penentuan puasa yang membutuhkan ilmu astronomi, dan lain sebagainya.Kelompok pertama ini didukung oleh Imam Al-Ghazali. Menurut Al-Ghazali, semua cabang ilmu pengetahuan terdapat dalam al-Qur’an, baik yang telah berhasil diungkap maupun yang belum terungkap. Kelompok ini mendasarkan pendapatnya pada ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa Allah Swt. telah menerangkan segala sesuatu dalam Al-Kitab dan Allah Swt. menurunkan Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.
Sementara itu, Imam Abu Ishak Ibrahim ibn Musa Al-Syatibi Al-Andalusi (w. 790 M) disebut-sebut sebagai orang yang menantang penggunaan tafsir ilmi terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Menurut Al-Syatibi, bahwa semua sahabat Nabi lebih mengetahui al-Qur’an dan apa-apa yang tercantum di dalamnya, tapi tidak seorang pun dari mereka yang menyatakan bahwa al-Qur’an mencakup seluruh cabang ilmu pengetahuan. Bahkan, menurut kelompok yang kedua ini, terbaca kesan pemaksaan penerapan tafsir ilmi terhadap ayat-ayat al-Qur’an.Kelompok kedua ini menolak penerapan tafsir ilmi terhadap al-Qur’an karena al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan, melainkan kitab hidayah, ishlah, dan tasyri’.
Sedangkan kelompok yang ketiga, kelompok moderat, mengambil jalan tengah di antara dua kutub Ghazalian dan Syatibian di atas.Bagi kelompok ini, pendapat Al-Ghazali yang menyatakan bahwa al-Qur’an mengandung segala sesuatu, adalah argumen yang dilebih-lebihkan.Sebab, meskipun ilmu Tuhan diyakini tidak terbatas, persoalannya adalah apakah ilmu-ilmu Tuhan telah dituangkan-Nya dalam al-Qur’an?Apakah setiap kata yang menyangkut disiplin ilmu merupakan bukti lengkapnya disiplin ilmu tersebut dalam al-Qur’an?
Untuk kelompok Al-Syatibi pendulum kritik diarahkan, bahwa umat Islam yang hidup di zaman ini tidak mungkin memahami al-Qur’an sebagaimana pemahaman sahabat dan orang-orang terdahulu. Sementara itu di sisi lain, al-Qur’an memerintahkan setiap muslim mempergunakan akal pikirannya serta merendahkan mereka yang hanya mengekor pendapat orang tua atau nenek moyangnya. Abbas Mahmud Aqqad adalah salah seorang yang dapat dimasukkan dalam kategori ketiga ini.
Menurut kelompok yang ketiga ini, tafsir ilmi dapat diterima dan diterapkan terhadap ayat-ayat al-Qur’an dengan catatan seorang mufasir memenuhi tiga syarat berikut ini.Pertama, penafsirannya sejalan dengan kaidah kebahasaan.Disebabkan al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, maka ketika menafsirkan ayat-ayat ilmiah, seorang mufasir harus paham dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.Selain mengerti dengan ilmu I’rab, bayan, ma’ani, dan badi’, sesuai dengan kaidah-kaidah dalam kitab-kitab tafsir dan kamus, seorang mufasir juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan perkembangan arti dari suatu kata.
Kedua, memperhatikan korelasi ayat (munasabat al-ayat).Selain menguasai kaidah kebahasaan, seorang mufasir ilmi harus juga dituntut untuk memperhatikan korealasi ayat, baik ayat sebelumnya maupun ayat sesudahnya.Hal ini penting, mengingat penyusunan al-Qur’an tidak berdasarkan pada kronologi turun ayat, melainkan berdasarkan pada korelasi makna ayat-ayatnya, sehingga kandungan ayat sebelumnya senantiasa berkaitan dengan kandungan ayat yang berikutnya.
Ketiga, berdasarkan pada fakta ilmiah yang telah mapan.Sebagaimana diketahui, sebagai kitab wahyu, kebenaran al-Qur’an diakui secara mutlak.Otentisitas dan validitasnya dapat diuji dari berbagai perspektif, baik dari perspektif sejarah, kebahasaan, berita ghaib, dan bahkan dari aspek ilmiah sekalipun.Oleh sebab itu, pensejajaran al-Qur’an dengan teori-teori ilmiah yang tidak mapan, tentu saja tidak dapat diterima.Dan, bila diperhatikan secara seksama, sesungguhnya menyandingkan ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kebenaran mutlak dengan kebenaran temuan ilmiah yang bersifat relatif, adalah salah satu alasan utama kelompok yang menolak penerapan tafsir ilmi terhadap al-Qur’an.
C.    Para Mufasir Kalangan Ilmuan

1.      Fakhruddin Ar-Razi
Muhammad bin Umar bin Al-Hasan At-Tamimi Al-Bakri At-Tabaristani Ar-Razi Fakruddin, atau yang lebih terkenal dengan sebutan Ibnu Al-Khatib Asy-Syafi’I Al-Faqih.[2]
Dilahrkan di Ray pada 543 H. dan wafat di Harah pada 606 H. beliau mempelajari ilmu-ilmu Naqliyah dan ilmu-ilmu rasional, selain itu beliau juga menguasai Ilmu Logika, Filsafat dan ilmu kalam. dari bidang-bidang ilmu tersebut lahirlah beberapa kitab. Sehingga beliau dipandang sebagai filusuf pada masanya, dan kitab-kitabnya menjadi rujukan penting bagi para filusuf muslim. Diantara karya-karya Tafsir Fakhruddin Ar-Razi yang paling terkenal adalah mafatih Al-Ghaib, Asrar At-Tanzil wa Anwar At-Takwil .
A.    Corak Tafsir Fakhruddin Ar-Razi
Ilmu-ilmu rasional sangat dominan di dalam karya-karyanya. Beliau mempercampuradukan berbagai kajian dalam tafsirnya diantaranya kedokteran, logika, filsafat dan hikmah. Semua itu yang mengakibatkan kitabnya keluar dari makna-makna yang dikandung Al-Qur’an dan lebih cendrung masuk kedalam persoalan rasional dan terminology ilmiah. Oleh sebab itu kitab tersebut tidak mempunyai jiwa tafsir dan hidayah Islam.

2.       Thanthawi Jauhari
Thanthawi Jauhari  adalah ulama moderat yang dikenal sebagai seorang cendekiawan Muslim asal Mesir yang kesohor karena kegigihannya dalam gerakan pembaruan untuk menumbuhkan motivasi umat Islam terhadap penguasaan ilmu pengetahuan.[3]Beliau dilahirkan pada tahun 1870 M di wilayah al-Ghar, wafat tahun 1940.[4] Ia berasal dari keluarga petani yang sederhana. Namun demikian kondisi sosial tersebut tidaklah menyurutkan keinginannya untuk terus memperdalam ilmu pengetahuan khususnya kajian keislaman, sehingga kabanyakan waktunya diabdikan untuk terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui penguasaan ilmu pengetahuan.
Orang tuanya menginginkannya tumbuh sebagai orang berpredikat terpelajar. Karena itu, setelah menamatkan serangkaian pendidikan formal di kota kelahirannya, ia dikirim ke universitas al-Azhar kairo untuk mendalami ilmu-ilmu agama. Di universitas al-Azhar, ia bertemu dengan seorang pembaharu terkemuka, Muhammad Abduh. Baginya, Abduh bukan sekedar guru, tetapi juga mitra dialog. Pergesekan pemikiran dengan Abduh memercikkan pengaruh besar pada pemikiran dan keilmuannya terutama dalam bidang tafsir.
Sebagai akademisi, Thanthawi aktif mencermati perkembangan ilmu pengetahuan. Caranya beragam, mulai dari membaca berbagai buku, menelaah artikel di media massa, hingga menghadiri berbagai seminar keilmuan. Dari beberapa ilmu yang dipelajarinya, ia tergila-gila pada ilmu tafsir.
Di samping itu, Thanthawi juga fasih berbicara tentang fisika. Menurutnya, ilmu itu harus dikuasai oleh umat Islam. Hanya dengan cara itu maka anggapan bahwa Islam adalah agama yang menentang ilmu pengetahuan dan teknologi dapat ditepis.
Dalam banyak kesempatan, hal yang kerap dikemukakan terkait harapannya adalah, perlunya penguasaan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Karena dia berpendapat, secara garis besar, ilmu pengetahuan terbagi dua yakni ilmu bahasa dan selain bahasa. Thanthawi menyatakan bahwa ilmu bahasa memegang peranan signifikan dalam sebuah studi, sebab ia merupakan alat untuk menguasai beragam bidang ilmu.
Pada bagian lain, Thanthawi pun membina studi Alquran, yakni guna membuktikan bahwa kitab suci umat Islam itu adalah satu-satunya kitab suci yang memotivasi pengembangan ilmu. Karena dalam pandangannya, Alquran senantiasa menganjurkan kepada umat Muslim untuk menuntut ilmu dalam arti seluas-luasnya. Pernyataan tersebut dikemukakan sambil menunjukkan bukti-bukti bahwasanya dalam Alquran terdapat banyak ayat yang memotivasi umat agar menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Adapun Karya Tafsir Thantawi Jauhari yang paling terkenal adalah Al-Jawahir fii Tafsir al-Qur’an. ini adalah buah karya tafsir ilmiyah pertama yang pernah diselesaikan secara sempurna. Tafsir ini terdiri dari dua puluh lima juz.

A.     Corak Tafsir Jauhari Thantawi

corak yang digunakan dalam tafsir ini adalah corak tafsir bil 'ilmi. Meskipun para ulama berbeda pendapat tentang tafsir bil 'ilmi, ada yang menolaknya dengan alasan bahwa teori-teori ilmiah jelas bersifat nisbi (relatif) dan tidak pernah final. Tetap ada yang mendukungnya dengan alasan bahwa al-Qur'an justru menggalakkan penafsiran ilmiah
Tetapi jika kita lihat dalam contoh, jika kita bandingkan dengan tasir lainnya, ketika ketiga tafsir sama-sama berbicara tentang 'alaq (علق) terlihat dengan jelas bahwa tafsir Jawahir ini memang menggunakan corak tafsir bil 'ilmi.
Sebagai contoh ketika ketiga tafsir berbicara tentang 'alaq (علق). Kedua tafsir (al-Maraghi dan al-Wadhih) seperti tafsir-tafsir lainnya mengartikan makna 'alaq (علق) sebagai darah yang membeku atau sepotong darah yang beku (دم جامد/قطعة دم جامدة) yang tidak mempunyai panca indra, tidak bergerak dan tidak mempunyai rambut.
Berbeda halnya ketika Thanthawi menafsirkan tentang 'alaq (علق), dia memulai dengan perbandingan antara telur yang ada pada binatang aves (sejenis burung) dengan sel telur yang ada pada manusia. Menurutnya apa yang terjadi pada binatang tersebut sama dengan apa yang ada pada manusia. Telur pada hewan jenis burung mempunyai apa yang dinamakan putih dan kuning telur. Dan apa yang dinamakan jurtsumah (جرثومة), di mana jurtsumah ini yang menjadi dasar pembentukan manusia..
Dari contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa ketika Thanthawi menafsirkan kata tersebut dia menggunakan ilmu biologi, berbeda jauh dengan yang dipakai oleh Maraghi maupun Hijazi. Hal ini membuktikan bahwa memang corak yang dipakai oleh Thanthawi adalah corak bil 'ilmi, menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an berdasarkan pendekatan ilmiah, atau menggali kandungannya berdasarkan teori-teori ilmu pengetahuan yang ada.
Namun yang perlu diingat adalah tidak ada ayat al-Qur'an yang bersifat ilmiah, karena al-Qur;an adalah wahyu dan kebenarannya berdifat mutlak. Sedangkan ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah kebenarannya bersifat relatif. Al-Qur'an bukanlah kitab ilmu melainkan kitab hudan bagi manusia. Tetapi petunjuk al-Qur'an ada yang berbentuk lafdzi, isyarat, qiasi dan yang tersurat berkenaan dengan ilmu pengetahuan guna mendukung fungsinya sebagai hudan.

Kesimpulan
1.       Tafsîr ‘ilmî secara sederhana dapat dipahami sebagai tafsir yang di dalamnya dilibatkan teori-teori ilmu pengetahuan, baik dari sisi hakikat maupun teori- teorinya untuk menjelaskan tujuan- tujuan serta makna-makna lafal-lafal al-Qur’ân.
2.       Terjadi pro-kontra di antara ulama. Sebagian dari mereka ada yang mendukung penafisran ilmiah. Tetapi ada sebagian ulama yang menolaknya. Ulama moderat sendiri memilih jalan tengah
3.      Alasan kelompok yang medukung tafsir ilmi adalah karena tafsir ilmi sebuah keniscayaan sejarah dan bagian dari upaya mendialogkan al-Qur’an dengan aktualitas, dengan konteks, dan sebagai respon terhadap perkembangan zaman yang senantiasa bergerak.Kelahiran tafsir ilmi merupakan dinamika yang wajar dalam batang tubuh umat Islam.Keberadaan tafsir ilmi dapat membuka tabir-tabir makna yang selama ini belum terungkap dan bahkan dalam beberapa kasus dapat merevisi berbagai pandangan atau tafsiran yang sejatinya bertolak belakang dengan visi dan paradigma al-Qur’an sendiri.


Daftar Pustaka
an-Najjar, Jamal Mustafa Abdul Hamid, Tabaqat wa Ittijahat ta-Tafsiriyah, Cairo, t.p, t.th
ad-Dzahabi, Muhammad Hussain, At-Tafsir wa al-Mufassirun, Cairo: Maktabah Wahabah, 2003
al-Qaththnan, Mana, terj. El-mazan, Aunur Rafiq ,Pengantar Studi Ilmu Al-Quran,Jakarta timur:Pustaka Al-Kautsar,2006
al-Qarâdhawiy, Yûsuf, Kaifa Nata’amal Ma’a al-Qur’ân al-Karîm, Beirut:Muassasah al-Risâlah, 2001



[1] Yûsuf al-Qarâdhawiy, Kaifa Nata’amal Ma’a al-Qur’ân al-Karîm, (Beirut: Muassasah al-Risâlah, 2001), Cet. 1, h. 211
[2] Mana al-Qaththnan, terj. Aunur Rafiq El-mazan, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran,(Jakarta timur:Pustaka Al-Kautsar,2006) hlm.479
[3] Jamal Mustafa Abdul Hamid an-Najjar, Tabaqat wa Ittijahat ta-Tafsiriyah, (Cairo, t.p, t.th), hlm. 258
[4] Muhammad Hussain ad-Dzahabi , At-Tafsir wa al-Mufassirun, (Cairo: Maktabah Wahabah, 2003), Vol. II, hlm. 370.

Total Tayangan Halaman